Sally

“Nak, ibu sakit.. sudah seminggu ibu gak bisa bangun, kapan kamu pulang? ibu kangen…”

Itu pesan singkat yg tak sengaja aku baca diponsel Sally, entah mengapa aku begitu penasaran, aku sangat heran kenapa Sally bisa begitu ceria padahal ibunya sedang menderita kesakitan, bahkan dia tidak terlihat sedih sama sekali.

“ibu sakit apa? Sally kerja, belum bisa cuti bulan ini, bulan depanpun sally ga janji.”

“ga parah sih, ibu cuma sakit kepala, udah berobat kemaren dianter sama bang Andre, ibu Cuma pengen ketemu kamu, kamu sehat nak?”.

“bagus kalo gitu, sally kerja dulu bu”.

Itu percakapan sally dan ibunya. Kali ini aku sengaja meminjam ponselnya dengan alasan ingin mendengarkan musik padahal aku ingin tau kabar ibunya.

Bang andre? Siapa itu? Apa itu kakaknya sally? Yg aku tau Sally hanya punya satu kakak laki-laki namanya Sapta Nugraha. Lah trus siapa itu bang Andre?

Aku tidak berani menanyakan langsung padanya walaupun aku sahabatnya. Sally itu wanita pendiam, dia pintar menyembunyikan sesuatu yg besar hanya dengan senyumannya yg membingungkan. Dan membaca pesan itu aku malah semakin bingung, Banyak sekali yg aku tak tau soal sally padahal aku mengaku kalau aku sahabatnya.

Dan kenapa dia ga jawab semua pertanyaan ibunya, kasih kabar ke kalau dia baik-baik aja disini.  Wah parah ini anak, masa bales sms ibunya model begitu. Beda banget sama kesehariaannya yg ramah dan welcome sama siapa aja, bahkan dia baik banget sama ibu aku. Tapi yaa sudahlah, mungkin dia lelah ahaha

Suatu hari dipantri ponsel miliknya berbunyi, dan ternyata panggilan itu dari ibunya.

“HP lu bunyi noh, kaga diangkat? Emak lu kayanya” .

“Nanti aja gw lagi makan”.

“Sini gw yg angkat,”

“ga usah!!”

Dalam hati aku, Wah ini anak durhaka, masa sama emaknya sendiri kaya gitu..

“pasti lu berpikir kalau gw ini anak durhaka yah? HAHAHAHA gw yakin pikiran lu lagi ngomong gtu..”

Sally malah ketawa, udah biasa sih, dia kan lebih banyak ketawa kalau lagi stress.. tapi kali ini ketawanya beda..  aku rasa bukan masalah pekerjaan dia yg bermasalah yg bikin dia stress kali ini.  Ada apa dengan dia?

“kriiing kriiing” (Hp Sally Bunyi)

“eh eh si Nanda nih.”

“sini Hpnya”

Giliran si nanda aja dia langsung angkat tuh telepon, Nanda itu sahabat aku sama Sally, dia mahasiswa di STIE Binaniaga Bogor, Sewaktu SMA kita sekelas terus. Dan Nanda adalah satu-satunya laki-laki yg setia sayang sama sally, walaupun dia tidak pernah bilang dan aku gak tau sally nyadar atau enggak sama perasaannya nanda. Dia gak pernah absen sms aku buat nanyain keadaan sally setiap hari.

“cieee,, makin intens aja nih sama nanda. HAHAHAHA”

“apaan sih? oia kemaren dia nembak gw di, itu barusan dia nagih jawabannya, makanya nelpon gw HAHAHA”

“trus lu berdua jadian dong? Yes! Gw dapet PJ”

“ya enggak lah, gw tolak soalnya, dia kan sahabat gw, lu tau sendiri kan? Ga mungkin gw pacaran sama dia”.

“lu nolak dia karena dia sahabat lu apa karena lu naksir sama si Wira? Sall, gw kasih tau yah wira itu badboy, lu bakal nangis trus loh kalau lu ngarepin dia.”

“hehehehe”

Dia malah ketawa, aku tidak pernah mengerti sama jalan pikirnya, padahal aku tau nanda itu lebih baik daripada wira, aku tau wira itu mempunyai lebih dari tiga wanita yg dia sebut sebagai “kekasih”. Dan Nanda, dia tulus sayang sama sally bahkan saat kami SMA. Tapi aku paham hati manusia tidak bisa diatur oleh siapapun bahkan oleh si pemilik hati itu sendiri, hanya orang yg punya tekad yg berani menolak keinginan hatinya dan berusaha sekeras mungkin untuk mengikuti logika, tapi tidak dengan sally.

Semakin hari semakin dia giat memperbaiki diri, merubah sikap-sikap buruk dan kebiasaannya yg tidak disukai wira, bahkan dia mulai berhias diri, hal yg dulu aku kira mustahil bakal sally lakukan, But, She’s do it. itu semua demi wira, demi terlihat sempurna dimata wira. Sally tidak pernah mengerti kalau kasih sayang tidak pernah menuntut kesempurnaan, kasih sayang lah yg seharusnya menutup segala kekurangan dan sally terlalu naïf untuk orang seperti wira.

Setelah Lebih dari 10 bulan, Sally makin dekat dengan wira, dia bilang

“Dian, gw ga mau yg lain, gw maunya dia aja”.

Hampir setiap hari sally pulang kerja bersama lelaki itu, bahkan wira sudah diperkenalkan pada ayah dan ibu tirinya, aku tak tau sally memperkenal wira sebagai apa, yg aku tau mereka tidak pernah resmi berpacaran. Aku rasa sally sudah lupa pada nanda yg setiap hari menanyakan keadaannya padaku, mungkin dia juga lupa padaku.

Hari ini aku memutuskan untuk pergi karumahnya, karena sudah 2 hari dia tidak masuk kerja karena sakit.

Saat dirumahnya, aku liat dia sedang berbaring didepan televisi sambil asyik main game di hpnya. Dengan mukanya yg lusuh dan pucat, dia menyapaku sambil tertawa.

“ih aku dijenguk anak monyet! AHAHAH”

“sialan lu, gw jenguk malah digituin. lu bisa sakit juga sall? Ahahah gw kira nih ya, iblis macem lu itu ga bisa sakit sampe parah begini. Ahahah”

“Lu sendiri kesini? Wira ga di ajak?”

“iya, gw ajak dia katanya ada urusan penting. gua ajak nanda dia ada di luar kota.”

“oooh, dian, Lu tau soal Rani, Ayu dan puji? Siapa diantara mereka yg jadian sama wira? Gw denger puji yah?”

“ko lu tau soal mereka, gw kira lu gak tau makanya lu suka sama siwira, gw sih dengernya sipuji resmi jadian ma si wira, kalo sama rani dan ayu cuma di PHPin doang kaya lu tuh.”

“jadi beritanya bener, gw tau semuanya bahkan sebelum lu tau. Gw liat semua yg dia lakuin. dia bilang dia ga pernah mau pacaran di, tapi… yah siapa juga sih yg mau sama gw kaya gini, cantik mah engga yg ada sakit-sakitan aja”.

Aku Cuma bisa diam mendengar sally berbicara seperti itu,  dia berubah banyak semenjak mengenal wira, tubuhnya semakin kurus, kepercayaan dirinya makin menghilang, dan dia tidak lagi melakukan hobbynya seperti dulu, dia seperti wanita yg tak punya mimpi, wajah cerianya hilang. Hal ini makin menambah rasa “tak suka” aku pada wira dia benar-benar orang jahat.

Tapi sally benar-benar kuat menghadapi wira, tak pernah aku melihat dia menangis, padahal aku tahu wira hanya memberi janji palsu padanya,dia tau segalanya yg wira lakukan, SAKIT PASTI. Walaupun tak bisa dipungkiri kalau wiralah yg membuat sally berubah pesat, bahkan dia sekarang berhijab dengan anggun, kamarnya rapi, dan tidak ada satupun komik yg aku lihat, komik itu diganti dengan buku-buku islami yg berderet sangat rapi. LUAR BIASA…

Hari itu aku memutuskan untuk menginap, karena tak ada seorangpun yg menemaninya. Pukul 00:12 Wib, aku tak kunjung tertidur, suara sesak nafas sally membuatku terus terjaga.

Aku memutuskan untuk membaca salah satu buku miliknya dan aku tertarik pada sebuah buku bersampul pink yg berjudul  “Jurnal”. Buku itu ternyata buku harian miliknya, dia menulis semua pengalaman yg dialaminya dari hari ke hari,dari tanggal ke tanggal, seakan-akan dia tidak mau melupakan setiap kejadian yg menimpanya. Sedih maupun Senang, mulai dari ketika dia dikejar orang gila saat pulang kerja sampai saat dia dilabrak seorang perempuan yg mengaku sebagai kekasih wira, bukan hanya itu saja, rute perjalanan saat pulang bersama wira pun dia catat dengan sangat terperinci. Kejadian-kejadian di hampir setiap tanggalnya membuatku tertawa, tingkahnya menghadapi setiap situasi sangat konyol, hingga aku menemukan satu tanggal yg hanya tertulis

# Minggu, 12 Januari 2014

“aku tidak perlu menulisnya, hari ini tidak akan aku lupakan bahkan jika aku amnesia sekalipun.”

Ntah apa yg terjadi saat itu, tapi setelah hari itu dia tidak melanjutkan kembali jurnalnya. Halaman-halaman selanjutnya berisi sketsa-sketsa wajah yg tidak aku kenal, hanya ada satu sketsa wajah wira disana. Aku kira dia hanya bisa menggambarkan keadaannya sekarang lewat gambar-gambar saja. Ternyata tidak, dihalaman terakhir aku menemukan note panjang yg isinya

jika dulu aku sudah bisa berkata

mungkin  aku sudah bersuara

mungkin aku sudah memohon padamu

mohon bawa aku bersamamu

 aku tidak akan menyusahkanmu

 

jika dulu aku sudah bisa berlari

mungkin aku sudah mengejarmu

terus menghampiri dan memelukmu

tanpa perlu susah payah mengingat wajahmu

 

 jika dulu aku sudah mengerti kenapa ayah menangis

mungkin aku sudah berhenti menangis

Ayah menangis karena aku menangis

Masa kecilku kuhabiskan untuk mengingat wajahmu

Masa remajaku kuhabiskan untuk mencari alasan kenapa engkau meninggalkanku

Masaku sekarang kuhabiskan untuk sanggup memaafkanmu.

Sulit ibu, ini sulit

Jika maafmu bisa mengganti air mata ayah

Jika maafmu bisa membuatku amnesia

Jika maafmu bisa menghapus kelamku, aku tak akan susah ibu.

Aku tak minta masa kecilku kembali

Aku tak minta keringat ayahku diganti

Aku hanya ingin pikiranku kembali,

Kembali seperti sebelum engkau pergi,

Dengan begitu, tidak ada yg perlu aku maafkan dan aku takkan kesusahan.

 

Aku hampir menangis membacanya, jadi ini yg membuatnya begitu tak acuh pada ibunya, dia sungguh bodoh, harusnya dia mengerti seberat apapun kesalahan seorang ibu, dia tetap ibu. Keringatnyalah yg membuat dirinya selamat sampai kedunia tanpa kurang satu apapun, aku memang tak mengerti kesusahan yg dialaminya, tapi dari puisinya aku tau kalau dia sangat ingin melupakan masalalunya, dia tidak membenci ibunya malah dia sangat menyeyanginya. Untuk itu dia lebih memilih amnesia agar bisa melupakan segala kesalahan ibunya.

Tapi aku rasa ini tidak ada hubungannya dengan tanggal 12? Apa yg terjadi pada tanggal itu? Aku sangat penasaran dan kebingungan sampai aku tak bisa menutup mata sampai fajar menjelang.

To be continue

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

%d blogger menyukai ini: